Malaysia, 21/07 Kepedulian terhadap kelompok marginal mendorong Wulandari, mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto, mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia. Bersama tujuh mahasiswa lainnya, Wulandari menjadi bagian dari tim KKN yang berjumlah delapan peserta, terdiri atas empat mahasiswa laki-laki dan empat mahasiswa perempuan.
Kegiatan KKN Internasional ini berlangsung selama 20 hari dengan sistem penempatan bergilir di beberapa wilayah. Wulandari ditempatkan di kawasan Bum Bum, sementara peserta laki-laki menjalankan pengabdian di Pulau Bait dan wilayah Sandakan. Dalam pelaksanaan programnya, Wulandari bersama tim berfokus pada pendampingan pendidikan bagi anak-anak imigran yang belum memperoleh akses sekolah formal di Malaysia.
Sebanyak 150 anak menjadi sasaran program pengabdian tersebut. Anak-anak tersebut selama ini mendapatkan pembelajaran melalui pendampingan ustazah dari Yayasan Ikhlas, sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan.
Wulandari mengungkapkan bahwa motivasi utamanya mengikuti KKN Internasional ini adalah melihat kondisi anak-anak imigran yang masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh hak pendidikan.
“Saya melihat masih ada ketimpangan yang cukup miris. Anak-anak imigran ini memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi karena status kewarganegaraan mereka belum diakui oleh pemerintah Malaysia, mereka tidak dapat mengakses sekolah kerajaan,” ujar Wulandari.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa PMI sangat relevan dengan kondisi tersebut karena bidang keilmuan PMI memiliki peran sebagai fasilitator dalam membantu masyarakat, khususnya kelompok rentan dan marginal.
“Sebagai mahasiswa PMI, kami tidak hanya belajar teori pemberdayaan masyarakat, tetapi juga harus mampu membantu masyarakat mengembangkan potensi mereka, termasuk masyarakat di wilayah terpencil yang memiliki hak yang sama untuk berkembang,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Wulandari berharap dapat meninggalkan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa dalam memahami persoalan sosial secara langsung.
“Saya berharap kehadiran kami dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan perubahan yang berarti. Selain itu, pengalaman ini menjadi bekal untuk menghadapi realitas kehidupan masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan,” katanya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa lain agar berani mengambil kesempatan di luar kebiasaan.
“Jangan takut mengambil pilihan yang berbeda. Terkadang pengalaman terbesar justru didapat ketika kita berani keluar dari zona nyaman,” pungkasnya.